Siswa Madyadesta Implementasikan “SUNUR” Saat Idul Fitri 1439 H

 

Sleman – Idul Fitri merupakan hari yang ditunggu oleh seluruh kaum muslim. Tradisi sungkeman menjadi salah satu hal menarik pada hari istimewa tersebut. Namun keberadaan tradisi ini semakin pudar di zaman milenial. Kondisi ini ternyata mampu direspon cepat oleh pengambil kebijakan Kemenag Kabupaten Sleman. Jauh sebelum hari raya tiba seluruh siswa madrasah dilatih untuk kembali menghidupkan budaya lokal yang sarat dengan makna. Begitu juga untuk siswa MTsN 8 sleman yang dilatih tatacara sungkem kepada orang yang lebih tua.

Mulai tahun ini siswa dihimbau untuk bersilaturahmi ke kediaman bapak ibu guru dan melakukan sungkeman sebagai permohonan maaf sekaligus komitmen untuk memulai kegiatan belajar dengan kondisi yang lebih baik. Pembuatan ketupat berbahan dasar janur juga diajarkan kepada siswa tak hanya pembuatan secara fisik tetapi juga pada makna nilai yang terkandung di dalamnya.

Drs. Sigit Sugandono menyampaikan pesan kepada siswa agar ketrampilan membuat ketupat benar-benar dapat dimanfaatkan serta diwujudkan. Selain “nguri uri” budaya lokal ketupat yang sudah jadi dapat dibagikan  kepada masyarakat. Saat lebaran gunakan momen tersebut untuk bersilaturahmi dan melakukan sungkem kepada orang tua, kerabat dan bapak ibu guru.

Pesan kepala madrasah disambut positif oleh siswa dengan hadir di kediaman bapak ibu guru dan melakukan proses sungkeman. Tentu banyak manfaat dari kegiatan ini. Selain memperkuat tali persaudaraan antar siswa dan guru juga sebagai titik awal mengembalikan kearifan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai religi dan humanis.(An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *