11 Penyandang Disabilitas MAN 2 Sleman Mengikuti Bimtek Literasi TIK- Kominfo dan YPAC

Berdasarkan laporan panitia ,kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan kesadaran literasi TIK dan mengembangkan keterampilan TIK bagi penyandang disabilitas. Output yang diharapkan adalah para peserta Bimtek mampu mengakses informasi melalui teknologi informasi dan komunikasi untuk kegiatan produktif.Bimtek dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan  Profesi dan Sertifikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan YPAC Nasional dan beberapa instruktur.Para instruktur adalah para penyandang disabilitas yang memiliki prestasi nasional maupun internasionl, diantaranya adalah Galuh Dedi Saputra, Pramudya Dyan Prabaswara, Echi Pramitasari, dan Septa dari STMM Yogyakarta. Peserta diklat adalah  penyandang disabilitas penglihatan, pendengaran, fisik, developmental, dan intelektual yang berusia antara 15-19 tahun , dan belum pernah mengikuti diklat sebelumnya.Bimtek ini merupakan penyelenggaraan yang ke sembilan kali , yang di mulai sejak tahun 2016. Bimtek ini sekaligus menyambut peringatan hari Disabilitas Nasional pada tanggal 3 Desember.

Dr. Ir. Basuki Yusuf Iskandar, MA mengatakan bahwa  Disable plus TIK  hasilnya  Enable, maksudnya TIK membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Untuk memotivasi , beliau juga mengingatkan kembali  bahwa banyak tokoh dunia dan orang terkenal adalah para  penyandang disabilitas . Mereka adalah mantan  presiden Indonesia, Abdurahman Wahid (Gus Dur  );salah satu presiden Amerika Serikat  Franklin D. Roosevelt;, penemu bola lampu, Thomas Alva Edison; Handry Satriago, CEO GE( Generic Electric ) Indonesia; penulis dan aktivis politik , Helen Keller; Tom Cruise, produser film , dll.

Ir. Woro Widyastuti, ketua YPAC Indonesia mengatakan , tujuan dari Bimtek adalah agar para siswa penyandang disabilitas ‘literate’ (bisa membaca )atau melek  IT (Informasi dan Teknologi ) sehingga IT bisa dimanfaakan untuk mendapatkan ilmu dan ‘income’ . Setelah tahap ‘literate’ , YPAC akan melanjutkan program berikutnya yaitu program start up yang berhubungan dengan kewirausahaan. Program ini sudah pernah dilaksanakan dengan pelatihan start up  yang diikuti sebanyak  21 orang, usia antara 19-35 tahun, oleh karena itu diharapkan para siswa yang sudah dilatih ini betul-betul serius agar bisa mengikuti program lanjutan tersebut.

Pada sesi diklat, para peserta memasuki ruang  sesuai dengan disabilitas yang dimiliki masing-masing. Pada ruang disabiltas netra dipandu oleh instruktur Pramudya Dyan Prabaswara ( Dyan ), salah satu nara sumber penyandang  low vision . Dyan kuliah di  UNS pada jurusan S1 Informatika . Dia pernah mengunjungi Korea dan China setelah menjuarai lomba GITC ( Global Information Technology Computer Challenge )pada tahun 2015. Karena prestasinya,  biaya kuliah dan biaya hidup  Dyan ditanggung oleh Kementerian Kominfo. Dyan memberikan  materi tentang e-commerce dan media sosial. Pada e-commerce  peserta  diberitahukan cara berdagang online. Semua peserta mengoperasikan komputer yang sudah disetting ‘bersuara’ atau  NVDA dan berlatih jual beli secara online.

Arditya Rachmawan , salah seorang peserta  penyandang low vision dari MAN 2 Sleman merasa senang sekali mengikuti diklat ini dan berharap bisa seperti instrukturnya. “ Beruntung saya ikut diklat ini sehingga bisa mendapatkan ilmu jual beli secara online. Saya sudah minta nomor kontak mas Dyan , saya akan intensif menghubungi mas Dyan. Mas Dyan sudah bersedia membantu saya“, demikian kata Arditya ketika ditanya tentang kesannya . Dia menjawab dengan rasa optimis. (fit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *