Rawat Toleransi, Kemenag Sleman Selenggarakan Dialog Antar Umat Beragama dan Deklarasi Anti Radikalisme

Kemenag Sleman (humas)- Mengawali rangkaian kegiatan tahun 2021, melalui Program Kerukunan Umat Beragama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman pada hari ini Kamis (8/4/2021) selama satu hari menyelenggarakan kegiatan Dialog Antar Umat Beragama (DAUB). Kegiatan ini mengangkat tema “Memahami Gerakan dan Bersatu Melawan Aksi Intoleransi dan Radikalisme”, cukup atraktif dan bermaksud responsive terhadap isu dan peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di berbagai wilayah tanah air yaitu perbuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Hal tersebut disampaikan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman Drs. H. Tulus Dumadi, MA saat melaporkan kegiatan pada pembukaan Dialog Antar Umat Beragama di Atrium Hotel Sleman Yogyakarta.

Ditambahkan Tulus Dumadi, tujuan kegiatan ini adalah mengajak secara bersama-sama dengan penuh kesadaran meningkatkan peran bersama para pemuka agama dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara dari ancaman gerakan intoleransi, radikalisme, dan terorisme, imbuhnya.

Kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta terdiri dari Para Pemuka Agama, Ormas Keagamaan, Panewu, Kepala KUA, Penyuluh, dan Pejabat/Pegawai Kementerian Agama juga sebagai bagian dari bentuk penolakan dan perlawanan terhadap Aksi Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme, yaitu dengan dilakukannya Deklarasi Anti Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme melalui pembubuhan tanda tangan bersama oleh Para Peserta kegiatan.

Kepala Kantor Kemenag Sleman membubuhkan tanda tangan mendeklarasikan anti radikalisme (9/4/2021) diikuti peserta dialog antat umat beragama

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman Drs. H. Sa’ban Nuroni, MA. saat memberikan Pengarahan sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan ini sekaligus membuka acara menyampaikan kata kunci bahwa Moderasi Beragama adalah instrumen untuk menguji wawasan keagamaan dan kebangsaan warga negara. “Moderat bukan liberal, melainkan adil dan seimbang”, terangnya.

Lebih lanjut Kakankemenag menjelaskan tentang indikator moderat yang memuat cinta tanah air, toleransi, Anti Kekerasan, dan ramah budaya lokal. batasan moderat yang tidak boleh melanggar nilai kemanusiaan, kesepakatan, dan tidak melanggar hukum yang berlaku. “hal tersebut dapat dilihat pada pribadi-pribadi moderat yang terbuka, mengedepankan nalar, menyadari kekurangan, tawadlu, dan mengutamakan kemaslahatan” jelanya.

Kegiatan DAUB ini menghadirkan Tiga Narasumber dari Badan Kesbangpol Pemkab Sleman terkait Peta Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Sleman, Badan Intelejen DIY terkait Deteksi dini terhadap aksi intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme dan dari Kepolisian (Polri) menyampaikan Penegakan Hukum dan Sanksi terhadap Pelaku Aksi Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme. (hp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *